Wednesday, January 27, 2010

makalah kekerasan dalam dunia pendidikan

MAKALAH KEWARGANEGARAAN
KEKERASAN DALAM DUNIA PENDIDIKAN


Abstrak

Kekerasan merupakan salah satu penyimpangan psikologis yang sering dilakukan oleh individu yang pikirannya mengalami tekanan besar ataupun oleh individu yang memiliki sifat pembawaan keras. Kekerasan dapat dilampiaskan dalam berbagai macam bentuk. Bentuk-bentuk pelampiasan kekerasan adalah dalam bentuk perkataan atau kekerasan verbal dan perbuatan atau kekerasan fisik. Jika seseorang melampiaskan kekerasan dalam bentuk verbal, biasanya dia akan mengatakan kata-kata kasar yang berupa umpatan pada orang lain. Sedangakn jika diungkapkan dalam bentuk tindakan, maka orang itu akan melakukan kontak fisik langsung pada orang lain. Kedua bentuk kekerasan ini memilki efek yang sama berbahayanya pada korban kekerasan tersebut.
Akhir-akhir ini banyak kasus kekerasan dalam dunia pendidian yang terungkap dan terangkat ke permukaan. Di sana-sini menjadi bahan pembicaraan masyarakat utamanya masyarakat pendidikan. Mulai dari pendidik, siswa, dan pengatur kebijakan pendidikan memperbincangkan fenomena yang sangat mengejutkan ini. Betapa tidak? Dalam lembaga yang seharusnya didasari etika dan moral yang adi luhung, ternyata terjadi tindak kekerasan yang sangat bertolak belakang dengan dasar-dasar pendidikan. Yang lebih mengejutkan, tindakan-tindakan kekerasan itu tidak hanya dilakukan oleh sesama pelajar, melainkan pendidik pada siswa mereka. Seorang pendidik yang seharusnya memberikan contoh yang baik ternyata tidak mampu membawa amanat sebagai ujung tombak pendidikan. Guru yang seharusnya “digugu lan ditiru” seakan sudah tidak pantas lagi dicontoh.
Namun kita semua tidaklah pantas menuangkan semua ksalahan kepada sang guru. Tentunya banyak faktor yang mendasari tindakan kekerasan dalam dunia pendidikan. Dalam makalah ini, akan dijelaskan mengenai apa itu kekerasan sampai pembahasan mengenai kekerasan dalam dunia pendidikan.













Pendahuluan

Kekerasan sekarang tidak hanya terjadi di jalanan yang keras, di militer yang memang membutuhkan pembinaan dengan kekerasan, tetapi juga terjadi di lembaga-lembaga yang lain. Mulai dari kantor, rumah tangga, sampai yang paling memprihatinkan adalah kekerasan yang terjadi di lembaga pendidikan. Ini tentu sangat memprihatinkan, Di lembaga yang seharusnya tempat membina mental dan moral para peserta didik, malah terjadi kekerasan yang bisa merusak moral mereka. Kekerasan itu terjadi antar para paserta didik itu sendiri, sebagai contoh tawuran antar pelajar, dan oleh pembina pendidikan atau guru kepada peserta didik.
Kekerasan guru terhadap siswa sering terjadi di dunia pendidikan saat-saat ini. Dua sisi yang sangat ekstrem dari si guru dan siswa tersebut jika bertemu, maka akan terjadi benturan (fisik).Singkatnya banyak siswa yang stres dan mencoba bunuh diri, sementara yang lain mencoba membakar dan merusak gedung sekolahnya, ketika tidak lulus ujian. Tampak bahwa dunia pendidikan di tanah air seakan tidak ramah terhadap perasaan dan nurani para siswa. Salah satu tujuan diselenggarakannya pendidikan sebagai sarana pemerdekaan dan pembebasan, hanya akan berada di awang-awang.
Pendidikan ahirnya hanya menghasilkan manusia cerdas namun seperti robot di satu sisi, dan manusia stres pada sisi lain. Sistem ranking, sistem penilaian, kebijakan yang tidak pernah konsisten, sistem dan proses pembelajaran yang monoton searah dan instruktif dari guru, menyebabkan anak-anak merasa tidak lagi "at home" di sekolahnya.Stres itu belum usai, di rumah sudah menanti ”monster” yang bernama ambisi orang tua. Di teras sudah menunggu guru les, ada les bahasa Inggris, piano, matematika, tari, dst, dengan setumpuk buku dan latihan soal yang membosankan.
Sketsa singkat di atas rasanya pantas untuk dijadikan renungan para penentu kebijakan pendidikan, agar di masa depan generasi muda Indonesia mendapatkan sistem pendidikan yang tidak saja mampu meningkatkan kecerdasan hidup, namun juga mampu memberikan bekal keterampilan hidup, pandangan hidup dan nilai-nilai kehidupan yang merangsang kecerdasan emosi dan spiritualnya. Bangsa ini tidak ingin lagi mendengar ada siswa bunuh diri gara-gara tidak lulus ujian atau tidak dapat membayar SPP.

Permasalahan
Permasalahan yang muncul dalam pokok bahasan kali ini antara lain:
1. Faktor-faktor timbulnya kekerasan dalam dunia pendidika
2. Dampak yang timbul akibat kekerasan tersebut
3. Cara mengatasi agar kekerasan tersebut tidak terjadi

Pembahasan
Kekerasan dalam dunia pendidikan sudah lazim terjadi di negara kita. Hal ini sebenarnya tidak layak terjadi namun tetap saja ada kasus-kasus serupa sehingga mencoreng nama baik pendidikan termasuk sekolah yang bersangkutan atau bahkan guru dan siswa sekolah tersebut. Faktor yang menyebabkan kekerasan tersebut biasanya berasal dari siswa. Siswa merasa tidak di hargai oleh temannya sehingga menimbulkan perkelahian antar siswa seiring dengan merosotnya pemahaman agama dan moral remaja. Ketidakharmonisan hubungan antar siswa ini menyebabkan kesenjangan diantara mereka sehingga terjadilah perkelahian yang bahkan sampai menimbulkan tawuran antar pelajar. Sebab yang lain adalah masih adanya anggapan siswa atau pelajar bahwa mereka tidak di katakan keren atau gagah oleh sesama teman mereka kalau tidak berpenampilan layaknya seorang preman dan belum pernah berkelahi. Hal ini masih sering terjadi dan tak jarang perkelahian antar pelajar pun timbul akibat hal ini.
Kekerasan juga terjadi oleh guru terhadap siswa. Hal ini juga sudah sangat sering terjadi. Media santer memberitakan hal serupa yang terjadi di beberapa daerah. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor yang kebanyakan berasal dari siswa namun kadang-kadang juga berasal dari guru. Kekerasan terjadi akibat siswa kurang begitu memahami peraturan dan tata tertib yang berlaku di sekolah tersebut. Beberapa memang sudah ada yang tahu namun tetap saja mereka tetap melanggar. Hal ini biasanya muncul akibat siswa yang kurang mengerti mengapa dan untuk apa peraturan itu dibuat. Yang mereka rasakan merasa tertekan dengan adanya peraturan tersebut sehingga mereka melanggar dan pelanggaran tersebut tidak bisa di toleransi. Akibatnya seorang guru bisa saja menghukum siswa tersebut dengan hukuman yang tidak wajar bahkan sampai menimbulkan luka terhadap siswa yang bersangkutan. Faktor yang berasal dari pihak guru ialah seorang guru kurang bisa mengendalikan emosi ketika tahu siswanya melakukan pelanggaran berat. Tak jarang juga seorang guru tidak membawa perkara pelanggaran siswa ke bagian kesiswaan dan malah main hakim sendiri. Sehingga terjadilah kasus pemukulan seorang guru terhadap siswanya yang sampai orang tua siswa tersebut tidak terima anaknya diperlakukuan seperti itu dan membawa masalah tersebut ke meja hukum. Tercorenglah nama baik sekolah yang bersangkutan. Kasus-kasus seperti ini makin menambah rentetan daftar hitam dunia pendidikan Indonesia di tengah sistem pendidikan yang dinilai masih kurang baik.
Dampak bagi siswa yang terlibat akibat kekerasan ini antara lain menurunnya psikologis anak tersebut akibat kasus yang menimpanya sehingga keinginan untuk belajar turun. Seiring minat belajar yang semakin rendah maka prestasinya pun juga ikut menurun. Dampak bagi sekolah sendiri ialah terganggunya proses belajar mengajar sehingga target sekolah tidak tercapai. Sementara dampak lain yang timbul ialah terjadi kesenjangan antara pihak orang tua dengan pihak sekolah sehingga menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap sekolah tersebut. Bagi negara sendiri ini merupakan sebuah penurunan mutu pendidikan sehingga bisa dikatakan kualitas pendidikan Indonesia belum bagus.
Solusi dari permasalahan ini yang mungkin bisa kita lakukan ialah yang pertama, kita menanamkan moral yang baik kepada siswa, guru dan warga sekolah lainnya melalui pemahaman agama yang baik dan pendidikan moral. Kedua, memperbaiki komunikasi antara siswa dengan sekolah dan sekolah dengan orang tua siswa agar hal-hal yang tidak diinginkan bisa di cegah. Ketiga, memperbaiki sistem pendidikan kita termasuk peraturan-peraturan yang berkaitan dengan pendidikan.

Kesimpulan
1. Sekolah dan orang tua hendaknya menanamkan moral yang baik terhadap siswa.
2. Komunikasi dan keterbukaan antara siswa dengan sekolah dan orang tua siswa dengan sekolah hendaknya terjalin dengan baik.
3. Sistem pendidikan negara kita masih kurang baik sehingga perlu adanya pembenahan.

Daftar Pustaka

http//www.digilib.itb.ac.id
http//www.icttemanggung.com
http//www.one indoskripsi.com
http//www.geocities.com
http//www.amazing filsafat.com
http//www.mirifica.net

No comments:

Post a Comment