Wednesday, June 9, 2010

PELAJARAN HIDUP

Waktu kamu berumur 1 tahun, dia menyuapi dan
memandikanmu ...
sebagai balasannya ... kau menangis sepanjang malam.

Waktu kamu berumur 2 tahun, dia mengajarimu bagaimana cara berjalan ..
sebagai balasannya ... kamu kabur waktu dia
memanggilmu

Waktu kamu berumur 3 tahun, dia memasak semua
makananmu dengan kasih sayang ...
sebagai balasannya ... kamu buang piring berisi
makananmu ke lantai

Waktu kamu berumur 4 tahun, dia memberimu pensil warna...
sebagai balasannya ... kamu corat coret tembok rumah
dan meja makan

Waktu kamu berumur 5 tahun, dia membelikanmu baju-baju mahal dan indah..
sebagai balasannya ... kamu memakainya bermain di
kubangan lumpur

Waktu berumur 6 tahun, dia mengantarmu pergi ke
sekolah ...
sebagai balasannya ... kamu berteriak "NGGAK MAU .!"

Waktu berumur 7 tahun, dia membelikanmu bola ...
sebagai balasannya .. kamu melemparkan bola ke jendela tetangga


Waktu berumur 8 tahun, dia memberimu es krim ...
sebagai balasannya .. kamu tumpahkan dan mengotori
seluruh bajumu

Waktu kamu berumur 9 tahun, dia membayar mahal untuk kursus-kursusmu ..
sebagai balasannya . kamu sering bolos dan sama sekali nggak mau belajar

Waktu kamu berumur 10 tahun, dia mengantar mu kemana saja, dari kolam renang sampai pesta ulang tahun ...
sebagai balasannya ... kamu melompat keluar mobil
tanpa memberi salam

Waktu kamu berumur 11 tahun, dia mengantar kamu dan
temen-temen kamu ke bioskop ...
sebagai balasannya ... kamu minta dia duduk di barisan
lain

Waktu kamu berumur 12 tahun, dia melarangmu melihat
acara tv khusus untuk orang dewasa ...
sebagai balasannya . kamu tunggu sampai dia keluar
rumah

Waktu kamu berumur 13 tahun, dia menyarankanmu untuk memotong rambut karena sudah waktunya ...
sebagai balasannya ... kamu bilang dia tidak tahu mode

Waktu kamu berumur 14 tahun, dia membayar biaya untuk kemahmu selama liburan ...
sebagai balasannya ... kamu nggak pernah menelponnya.


Waktu kamu berumur 15 tahun, pulang kerja dia ingin
memelukmu ...
sebagai balasannya ... kamu kunci pintu kamarmu

Waktu kamu berumur 16 tahun, dia mengajari kamu
mengemudi mobil ...
sebagai balasannya ... kamu pakai mobilnya setiap ada
kesempatan tanpa mempedulikan kepentingannya

Waktu kamu berumur 17 tahun, dia sedang menunggu
telpon yang penting ..
sebagai balasannya ... kamu pakai telpon nonstop semalaman

waktu kamu berumur 18 tahun, dia menangis terharu
ketika kamu lulus SMA..
sebagai balasannya ... kamu berpesta dengan teman-temanmu sampai pagi

Waktu kamu berumur 19 tahun, dia membayar semua
kuliahmu dan mengantarmu ke kampus pada hari pertama .
sebagai balasannya ... kamu minta diturunkan jauh dari pintu gerbang biar nggak malu sama temen-temen

Waktu kamu berumu r 20 tahun, dia bertany a "Darimana saja seharian ini?"..
sebagai balasannya ... kamu menjawab "Ah, cerewet amat sih, pengen tahu urusan orang."

Waktu kamu berumur 21 tahun, dia menyarankanmu satu pekerjaan bagus untuk karier masa depanmu .
sebagai balasannya ... kamu bilang "Aku nggak mau seperti kamu."

Waktu kamu berumur 22 tahun, dia memelukmu dan haru waktu kamu lulus perguruan tinggi ...
sebagai balasanmu ... kamu nanya kapan kamu bisa main ke luar negeri

Waktu kamu berumur 23 tahun, dia membelikanmu 1 set furniture untuk rumah barumu .
sebagai balasannya ... kamu ceritain ke temanmu betapa jeleknya furniture itu

Waktu kamu berumur 24 tahun, dia bertemu dengan tunanganmu dan bertanya tentang rencana di masa depan ...
sebagai balasannya ... kamu mengeluh "Aduh gimana sih kok bertanya seperti itu."

Waktu kamu berumur 25 tahun, dia membantumu membiayai pernikahanmu ..
sebagai balasannya . kamu pindah ke kota lain yang jaraknya lebih dari 500 km

Waktu kamu berumur 30 tahun, dia memberimu nasehat bagaimana merawat bayimu ... sebagai balasannya ... kamu katakan "Sekarang jamannya sudah beda."

Waktu kamu berumur 40 tahun, dia menelponmu untuk memberitahu pesta salah satu saudara dekatmu ...
sebagai balasannya kamu jawab "Aku sibuk sekali,nggak ada waktu."

Waktu kamu berumur 50 tahun, dia sakit-sakitan sehingga memerlukan perawatanmu...
sebagai balasannya ... kamu baca tentang pengaruh negatif orang tua yang numpang tinggal di rumah anaknya


dan hingga SUATU HARI, dia meninggal dengan tenang... dan tiba-tiba kamu teringat semua yang belum pernah kamu lakukan, ... dan itu menghantam HATIMU bagaikan pukulan godam


MAKA .
JIKA ORANGTUAMU MASIH ADA .. BERIKANLAH KASIH
SAYANG DAN PERHATIAN LEBIH DARI YANG PERNAH KAMU BERIKAN SELAMA INI
JIKA ORANG TUAMU SUDAH TIADA ... INGATLAH KASIH SAYANG DAN CINTANYA YANG
TELAH DIBERIKANNYA DENGAN TULUS TANPA SYARAT KEPADAMU.





Pelajaran hidup Yogi dan Ayu

Bahagiakah pasangan yg menikah hanya krn cinta? Barangkali kisah ini bisa menjadi renungan bagi kita, utamanya yang ingin berumah tangga : Alkisah, seorang pemuda miskin bernama Yogi Prasetyo, berasal dari Purwokerto, Jawa Tengah. Keluarganya hanyalah keluarga sederhana, kalau tidak bisa disebut miskin. Ayahnya sehari-hari bekerja sebagai tukang jahit di desanya.
Karena kegigihannya, Yogi berhasil kuliah di FE UGM walaupun dengan biaya seadanya. Semasa semester 4 di kampus, Yogi jatuh hati pada seorang gadis bernama Ayu Wulaningrum, juga sama-sama kuliah di fakultas yang sama.
Ayu adalah putri seorang bupati ternama di daerah Yogyakarta dan juga masih keturunan keraton. Walaupun secara ekonomi mereka jauh berbeda, namun tidak menghalangi keduanya untuk saling mencintai.
Ayah Ayu yang mengetahui putrinya begitu mencintai pemuda dari keturunan biasa, tak mampu mencegah gelora cinta putrinya. Maka begitu keduanya telah lulus, pernikahan keduanyapun diselenggarakan dengan megah. Pesta besar-besaran digelar untuk mengiringi pernikahan putrinya.
Ayah Yogi yang tak punya banyak harta, hanya bisa memberikan bantuan sumbangan pakaian, sprei, sarung bantal, yang semuanya ia buat dan ia jahit sendiri khusus untuk pernikahan putranya.
Bahagiakah Ayu bersanding dengan Yogi ? Ternyata kebahagiaan mereka tidak berlangsung lama. Tibalah saatnya malam pengantin tiba.
Mereka berduapun memasuki peraduan dengan bahagia. Namun, ketika Yogi membuka pakaiannya dan tinggal memakai celana kolor, berteriaklah Ayu dengan
keras, sebelum akhirnya pingsan tak sadarkan diri. Semua penghuni rumah dari
kerabat dan keluarga Ayu pun berdatangan melihat kejadian itu.
Yogi masih dalam kebingungan dan mencari tahu kenapa istrinya histeris dan pingsan. Dilihatnya celana kolor yang ia pakai. Aduh, Yogi lupa kalau celana kolor itu jahitan ayahnya, dibuat dari kain bekas wadah tepung terigu. Di tengah celana kolor itu masih terpampang jelas tulisan, “BERAT BERSIH 25 KG”. Tentu saja Ayu langsung pingsan melihatnya. Ayu tidak bisa membayangkan seberapa besar isinya dengan berat segitu.

Pelajaran hidup dari mobil susu

Susu merupakan sumber makanan yang baik. Susu ibu, susu sapi, susu kaleng pun masih lebih baik daripada teh. Betul? Secara gua jaman kecil tidak terlalu suka susu, karena susu putih jaman dulu (biar dikata udah dicampur susu coklat) rasanya rada neg! Tapi ya dimeja suka disediain susu biar kata kadang curi-curi ga minum ato minum pake nutup idung , Jaman kuliah kesadaran akan perlunya minum susu meningkat, tapi susu juga udah ga dalam hitungan murah buat kantong mahasiswa. Susu kotak (kertas) jaman saya kuliah (1991-1994an) harganya masih 3 ribuan perak. Inget juga pernah beli susu Dutch Lady kaleng dari kampung halaman (di Bandung jarang) yang segede gaban harganya kalo ga salah dulu 20rban. Mahal banget bagi ukuran mahasiswa dengan uang saku bulanan 60rb perak.
Krismon 1998 merupakan titik tolak tahun sekem nasional. Secara inget temen punya bayi, nangis-nangis katanya beli susu udah 80rban. Sekarang susu lebih edan lagi, susu kecil udah 28rb apalagi susu kaleng besar. Buat yang udah pengalaman membesarkan anak mungkin bisa pengalaman berapa rupiah yang dibutuhkan sebulan untuk membeli susu?
Mungkin target obrolan saya bukan pembaca blog ini, secara pembaca blog “paling tidak” mungkin sudah sedikit lebih berpendidikan dan punya latar belakang ekonomi paling tidak lumayan? *semoga. Jadi mungkin urusan susu sudah tidak jadi bahan pemikiran lagi? Ato masih? Yang patut dipikirin adalah bagaimana dengan rakyat kebanyakan, yang makan aja masih harus bergantung penghasilan 10rb per hari, udah kena sekem kudu beli gas paling murah 25rb, biasa punya 10rb udah bisa masak dengan beli minyak tanah 1500 perak, sekarang apa kudu puasa dulu berapa hari baru masak, mana sempet disuruh mikirin susu. Anakpun dikorbankan dikasih teh aja. Dari cerita kakak saya tinggal lama di Jepang, urusan susu disana adalah pe-er pemerintah. Punya anak udah pasti dapet jatah kiriman susu perbulan. Kalo urusan susu sang Bapak sih urus sendiri.
Yang saya mo gelitik disini suatu pertanyaan sederhana yang bermakna dalam. Apakah anda pernah melihat mobil susu melintas? Hayoo sapa yang pernah ngacung! Rasanya ga banyak yang pernah liat mobil susu di jalanan. Kecuali yang hobby plesir ke Lembang. Mobil susu itu paling jarang di jalanan dilihat publik sesederhana karena susu kalo banyak dilewatin orang akan mudah basi! Jadi setiap mobil susu yang melintas dari tempat pemerahan sapi ke pabrik susu haruslah dijalanan yang sedang sepi dan dikawal oleh voor rider. Jadi biasanya sih jalan kalo tengah malem dan sudah dibukain jalan. Kalo ga berapa kerugian kalo satu tangki basi semua
Apa pembelajaran hidup dari kasus mobil susu? Ya negeri ini emang banyak siluman jalanan. Bukan genk motor, tapi skemernya itu adalah mengatasnamakan MAHAL nya biaya transportasi. Kalo nongkrong ditukang cukur gocengan suka mau nangis batin mendengar petani cerita kalo jagungnya sekilo cuma dihargain 100 perak, sedangkan di supermarket besar bisa 1300-1600 perak per kilo. Lah 1500 nya kemana? Ya itu atas nama mahalnya transportasi tengkulak-tengkulak bersorak-sorai diatas kehidupan petani.
Ada cerita dari seorang officeboy yang saya kenal. Ternyata sebelum krisis moneter 1998 beliau adalah seorang juragan tembakau di daerahnya. Bukan dengan konteks juragan jir markajir seperti bayangan anda, tapi kalo tani sendiri masih dikerjain sendiri sekali panen hasilnya 40 juta lumayan kan daripada jadi orang kantoran kudu modal dasi tiap kali tapi kantong tengah bulan juga udah kosong. Yang bersangkutan kemudian kena sekem “kelompok terorganisir” dengan mengatasnamakan kenaikan harga pupuk. Beli pupuk 1 ton pasti kena sekem aparat dijalan kalo bawa mobil, tapi kalo kelompok tertentu bebas melenggang. Mau bawa pupuk naik motor bolak-balik berapa ongkos kalo sekali trip cuma bisa gotong 2 karung? Alhasil banyak yang migrasi ke kota jadi pekerja serabutan dan salah satu tetangganya pun sempet menegak pupuk karena frustasi.
Apabila ingin mensejahterakan petani (mayoritas struktur masyarakat negeri ini) pertama yang harus dipikirin ya permasalahan transportasinya. Ongkos kirim dari sumber barang ke pusat perjualan di kota harus diminimasi. Thailand adalah salah satu negara yang pertama kali menerapkan sistem ini. Apabila ada hasil bumi diangkut dari petani maka dikawal oleh aparat untuk dibantu ke pusat penjualan di kota. Sehingga petani bisa menikmati hasil panennya dengan harga yang lebih baik, sekaligus bisa meningkatkan standard hidupnya. Kalo ga ya golongan tengkulaknya para petani ato nelayan ini sajalah yang akan menikmati keuntungan besar diatas jerih payah dan keringat para petani.
Saat ini beberapa officeboy dari daerah ini disela-sela pekerjaannya di kota jadi buruh, dikampungnya mulai ternak sapi Australi. Ternyata sapi Australi (unggulan ini muahal-muahal sekarang), bibitnya bisa 8,5jt perak dan bisa jual anakan 4 bulannya seharga 4,6jt. Not bad buat hasil ternak dan menambah peningkatan kualitas hidup mereka. Masalahnya sapi itu beranaknya cuma 1 kali setaon. Apa perlu dikawinin sama babi aja guyon saya biar anaknya banyak (Jangan serius2).
Masyarakat Timor Leste juga punya kebiasaan dari kecil anaknya sudah sejak lahir dibekali sapi. Jadi setelah umur 20an mau menikah harus meminang sesuai dengan “harga pasar” gadis yang ingin dipersunting. Misal sang gadis adalah kembang desa sehingga sang calon mertua minta 30 ekor sapi, ya mau ga mau tuh kudu siapin 30 ekor sapi hasil ternakannya dari kecil. Kalo ga bisa ya terpaksa cari calon kelas 2 deh
Bener juga, banyak yang bisa dipelajari dari sapi dan kisah seputar susu. Minimal kan warga kalo punya sapi bisa minum susu sapi dan sehat-sehat. Negeri ini? Wah boro-boro bisa nyediain susu gratisan. Sekolah dan urusan perut aja masih dipersulit (mahal), gimana mo mikirin sapi? Kebalik ya? *ngacirrr

No comments:

Post a Comment