Thursday, March 11, 2010

sarana berfikir ilmiah

Sarana Berpikir Ilmiah
Untuk melakukan kegiatan ilmiah secara baik diperlukan sarana berpikir. Tersedianya sarana tersebut memungkinkan dilakukannya penelaahan ilmiah secara teratur dan cermat. Penguasaan sarana berpikir ilmiah ini merupakan suatu hal yang bersifat imperatif bagi seorang ilmuwan. Tanpa menguasai hal ini maka kegiatan ilmiah yang baik tak dapat dilakukan.
Sarana ilmiah pada dasarnya merupakan alat yang membantu kegiatan ilmiah dalam berbagai langkah yang harus ditempuhnya. Pada langkah tertentu biasanya diperlukan sarana yang tertentu pula. Oleh sebab itulah maka sebelum kita mempelajari sarana-sarana berpikir ilmiah ini seyogyanya kita telah menguasai langkah-langkah dalam kegiatan langkah tersebut.
Dengan jalan ini maka kita akan sampai pada hakekat sarana yang sebenarnya sebab sarana merupakan alat yang membantu dalam mencapai suatu tujuan tertentu. Dengan kata lain, sarana ilmiah mempunyai fungsi-fungsi yang khas dalam kaitan kegiatan ilmiah secara menyeluruh.
Dalam proses pendidikan, sarana berpikir ilmiah ini merupakan bidang studi tersendiri. Dalam hal ini kita harus memperhatikan 2 hal, yaitu :
a. Sarana ilmiah bukan merupakan kumpulan ilmu, dalam pengertian bahwa sarana ilmiah itu merupakan kumpulan pengetahuan yang didapatkan berdasarkan metode ilmiah. Seperti diketahui, salah satu diantara ciri-ciri ilmu umpamanya adalah penggunaan induksi dan deduksi dalam mendapatkan pengetahuan. Sarana berpikir ilmiah tidak mempergunakan cara ini dalam mendapatkan pengetahuannya. Secara lebih jelas dapat dikatakan bahwa ilmu mempunyai metode tersendiri dalam mendapatkan pengetahuaannya yang berbeda dengan sarana berpikir ilmiah.
b. Tujuan mempelajari sarana berpikir ilmiah adalah untuk memungkinkan kita untuk menelaah ilmu secara baik. Sedangkan tujuan mempelajari ilmu dimaksudkan untuk mendapatkan pengetahuan yang memungkinkan kita untuk dapat memecahkan masalah kita sehari-hari. Dalam hal ini maka sarana berpikir ilmiah merupakan alat bagi cabang-cabang ilmu untuk mengembangkan materi pengetahuaannya berdasarkan metode ilmiah.
Jelaslah bahwa mengapa sarana berpikir ilmiah mempunyai metode tersendiri yang berbeda dengan metode ilmiah dalam mendapatkan pengetahuaannya sebab fungsi sarana berpikir ilmiah adalah membantu proses metode ilmiah dan bahkan merupakan ilmu tersendiri.
Untuk dapat melakukan kegiatan berpikir ilmiah dengan baik maka diperlukan sarana yang berupa bahasa, logika, matematika, dan statistika. Bahasa merupakan alat komunikasi verbal yang dipakai dalam seluruh proses berpikir ilmiah dan untuk menyampaikan jalan pikiran tersebut kepada orang lain.
Dilihat dari pola berpikirnya maka ilmu merupakan gabungan antara berpikir deduktif dan induktif. Untuk itu maka penalaran ilmiah menyandarkan diri pada proses logika deduktif dan induktif. Matematika mempunyai peranan yang penting dalam berpikir deduktif ini sedangkan statistik mempunyai peranan penting dalam berpikir induktif.
Proses pengujian dalam kegiatan ilmiah mengharuskan kita menguasai metode penelitian ilmiah yang pada hakekatnya merupakan pengumpulan fakta untuk menolak atau menerima hipotesis yang diajukan. Kemampuan berpikir ilmiah yang baik harus didukung oleh penguasaan sarana berpikir ini dengan baik pula.
Salah satu langkah ke arah penguasaan itu adalah mengetahui dengan benar peranan masing-masing sarana berpikir tersebut dalam keseluruhan proses berpikir ilmiah.
Sumber :
Prof. Dr. Soekidjo Notoatmodjo. Metodologi Penelitian Kesehatan. Cet. ke-2, Januari. Jakarta : Rineka Cipta. 2002.
Sarana Berfikir Ilmiah
Berfikir merupakan ciri utama bagi manusia. Berfikir disebut juga sebagai proses bekerjanya akal. Secara garis besar berfikir dapat dibedakan antara berfikir alamiah dan berfikir ilmiah. Berfikir alamiah adalah pola penalaran yang berdasarkan kehidupan sehari-hari dari pengaruh alam sekelilingnya. Berfikir ilmiah adalah pola penalaran berdasarkan sarana tertentu secara teratur dan cermat.
Bagi seorang ilmuan penguasaan sarana berfikir ilmiah merupakan suatu keharusan, karena tanpa adanya penguasaan sarana ilmiah, maka tidak akan dapat melaksanakan kegiatan ilmiah dengan baik. Sarana ilmiah pada dasarnya merupakan alat untuk membantu kegiatan ilmiah dengan berbagai langkah yang harus ditempuh.
Sarana berfikir ilmiah pada dasarnya ada tiga, yaitu : bahasa ilmiah, logika dan matematika, logika dan statistika. Bahasa ilmiah berfungsi sebagai alat komunikasi untuk menyampaikan jalan fikiran seluruh proses berfikir ilmiah. Logika dan matematika mempunyai peranan penting dalam berfikir deduktif sehingga mudah diikuti dan mudah dilacak kembali kebenarannya. Sedang logika dan statistika mempunyai peranan penting dalam berfikir induktif dan mencari konsep-konsep yang berlaku umum.


Ilmu diperoleh dengan cara melakukan kegiatan ilmiah, yang dilandasi oleh pemikiran ilmiah. Untuk melakukan kegiatan ilmiah yang baik diperlukan sarana berpikir. Sarana inilah yang disebut sebagai sarana berfikir ilmiah. Sarana ilmiah pada dasarnya merupakan alat untuk yang membantu kegiatan ilmiah dalam berbagai langkah yang harus ditempuh.

Berikut akan saya kemukakan tentang berfikir ilmiah bila ditinjau dari aspek bahasa, logika, matematika dan statisktika.
Bahasa
Bahasa merupakan aspek terpenting dalam berfikir ilmiah, tanpa menguasai bahasa, maka seseorang tidak akan bisa menguasai ilmu pengetahuan. Keunikan manusia sebenarnya bukanlah terletak pada kemampuan berfikirnya, melainkan terletak pada kemampuannya dalam berbahasa. Karena, tanpa mempunyai kemampuan berbahasa, maka kegiatan berfikir secara sistematis dan teratur tidak mungkin dapat dilakukan. Dengan bahasa, manusia juga menjadi mampu berkomunikasi dengan manusia lainnya. Seorang ilmuwan tidak akan bisa memaparkan hasil penemuannya kepada masyarakat jika ia tidak menguasai bahasa.
Meskipun demikian, bahasa tetaplah mempunyai kekurangan. Kekurangan bahasa ini tidak lain di karenakan pada peranan dari bahasa itu sendiri yang bersifat sebagai multi fungsi. Karena, selain sebagai alat komunikasi emotif, bahasa juga berfungsi sebagai alat komunikasi afektif dan juga simbolik. Sehingga dalam berkomunikasi antar sesama manusia, akan terjadi beberapa penafsiran makna yang berbeda, yang memungkinkan akan terjadi kesalapahaman dalam memahami maksud ucapan dari seseorang.
Logika
Logika merupakan suatu pernyataan yang timbul dari pemikiran manusia, yang mana pernyataan itu haruslah sesuai dengan akal sehat manusia, dengan kata lain masuk akal. Dalam berfikir ilmiah, kita haruslah menggunakan pemikiran yang logis. Agar pendapat kita bisa mudah diterima oleh masyarakat secara umum, dan juga agar tidak menyimpang dari wewenang penjelajahan dari suatu ilmu, karena pada hakikatnya, ilmu itu adalah sesuatu yang logis.
Sebagai contoh, kita bisa saja mengatakan bahwa seekor gajah yang besar bisa melewati lubang jarum jahit yang kecil. Namun, apakah itu sesuai dengan pemikiran akal sehat manusia? Tentu tidak, karena secara logika, tidaklah mungkin seekor gajah yang besar dapat melewati lubang jarum yang kecil.
Matematika
Matematika adalah bahasa yang melambangkan serangkaian makna dari pernyataan yang ingin kita sampaikan. Lambang matematika adalah sesuatu yang bersifat “artifisial”. Artinya ia baru mempunyai arti jika sebuah makna diberikan kepadanya. Tanpa itu, maka matematika hanyalah kumpulan-kumpulan rumus yang mati dan tak berguna.
Seperti telah kita bahas sebelumnya, bahwa bahasa mempunyai beberapa kekurangan, karena bahasa dapat menyebabkan kesalahpahaman dan ketidak jelasan makna dari sebuah pernyataan ataupunungkapan. Maka untuk mengatasi kekurangan yang terdapat dalam bahasa ini, maka kita harus berpaling kepada matematika. Karena matematika adalah bahasa yang berusaha untuk menghilangkan sifat kabur, majemuk dan emosional dari sebuah bahasa yang menimbulkan beragam penafsiran
Matematika memungkinkan kita untuk melakukan pengamatan dan pengukuran secara kuantitatif. Tanpa matematika, kita tidak akan mampu mengemukakan pernyataan yang bersifat kuantitatif. Karena bahasa hanya mampu mengemukakan pernyataan yang bersifat kualitatif.
Matematika juga membantu bahasa untuk lebih cermat dan tepat dalam melakukan kontrol ilmu. Sebagai contoh dalam bidang ilmu kimia, “jika logam dipanaskan maka logam akan memuai”, secara bahasa kita hanya mampu berkata sampai di situ saja. Mengenai penjelasan tentang berapa besar pertambahan panjang logam tidak mampu dibahas oleh bahasa, tetapi dengan matematika, kita akan bisa lebih cermat dan tepat dalam mengeluarkan suatu pernyataan. Ilmu memberikan jawaban yang lebih cermat dan lebih bersifat eksak yang memungkinkan pemecahan masalah dapat dilakukan dengan lebih cermat dan tepat. Matematika memungkinkan ilmu mengalami perkembangan dari tahap kualitatif ke tahap kuantitatif.
Selain sebagai bahasa, matematika juga berfungsi sebagai alat berfikir. Ilmu merupakan pengetahuan yang mendasarkan kepada analisis dalam menarik kesimpulan menurut suatu pola fikir tertentu. Dan matematika adalah suatu metode, di mana jika kita bisa menguasainya, maka kita juga akan mampu berfikir logis dalam berfikit ilmiah. Sehingga dengan matematika pula kita bisa mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang masuk akal.
Untuk itu, matematika merupakan sarana yang juga harus kita kuasai dalam berfikir ilmiah. Karena tanpa sarana matematika, kita tidak akan dapat mengeluarkan pernyataan-secara logika.
Statistika
Sebagaimana telah di paparkan sebelumnya dalam ontologi, bahwa dalam kajian ilmu, ilmu tidak bisa dipisahkan dari aspek asumsi dan peluang. Untuk mengkaji peluang dalam kajian keilmuwan inilah dalam berfikir ilmiah kita juga membutuhkan statistika. Statistika merupakan pengetahuan yang memungkinkan kita untuk menghitung tingkat peluang dari suatu penalaran secara eksak. Statistika mampu memberikan secara kualitatif tingkat ketelitian dari kesimpulan yang akan kita tarik. Untuk itu, penguasaan statistik sebagai sarana dalam berfikir ilmiah untuk dalam mengkaji suatu ilmu adalah mutlak diperlukan. Karena pada hakikatnya, statistik merupakan sarana berfikir yang diperlukan untuk memproses pengetahuan secara ilmiah. Sebagai bagian dari perangkat metode ilmiah, maka statistik membantu kita untuk melakukan generalisasi dan menyimpulkan karakteristik suatu kejadian secara lebih pasti dan bukan terjadi secara kebetulan.

No comments:

Post a Comment